Kamis, 29 Mei 2014

Changhua – Chiayi – Penghu : Sebersit Kekecewaan Dibalik Kenangan Tak Terlupakan (Hari Ke-2)

Tidak ada sesuatu yang istimewa di balik jendela di luar sana. Saya mengintip keluar melalui celah sempit di antara tirai semata karena ingin mengetahui keadaan cuaca hari ini. Di sebuah penginapan kecil namun nyaman di Chiayi, saya bertanya-tanya di dalam hati kenangan seperti apakah gerangan yang akan saya peroleh dari perjalanan ke Penghu selama 2 hari ke depan. Seluruh wilayah pulau Formosa telah siap untuk menyambut kedatangan musim panas, namun di Taiwan bagian tengah ini, saya merasakan udara pagi yang jauh lebih nyaman menyelimuti saya. Menikmati langit yang cerah namun masih dengan cahaya matahari yang bersahabat, udara yang hangat namun tidak sepanas dan selembab udara Taipei, membuat saya sepenuh hati berharap agar cuaca Penghu pun seindah cuaca Chiayi pagi ini.
            
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi dan saya merasa takjub dengan betapa masih sunyinya gang kecil di depan penginapan ini. Semakin jauh saya berjalan meninggalkan pintu penginapan menuju ke arah jalan raya, suasana kota yang sibuk pun mulai semakin terasa. Spontan saya pun teringat akan sebersit kekecewaan yang saya rasakan semalam saat sedang berjalan-jalan di kota Chiayi. Chiayi memiliki suasana kota yang serupa dengan Changhua dimana nuansa tradisional berbaur dengan modernitas. Berjalan sepanjang jalan perkotaan di Changhua pada siang hari dan menyusuri keramaian jalan di Chiayi pada malam hari menimbulkan sebuah penyesalan karena saya tidak memiliki waktu yang lebih panjang untuk menjelajah kedua tempat ini. Saya pun menyadari bahwa waktu yang singkat ini pun akan segera berlalu seiring dengan langkah kaki saya yang semakin mendekati Stasiun Kereta Chiayi, dimana saya akan bertemu dengan kawan-kawan yang lain untuk melanjutkan perjalanan ke Penghu.

            
Saat ini adalah ketiga kalinya saya bertemu dengan mereka berdua. Si gemuk yang memenuhi kursi depan di samping pengemudi merupakan kawan yang paling saya kenal dibanding yang lain. Sementara itu, rekan yang duduk di sebelah kiri saya tampak menyenangkan namun pendiam, entah karena dia memang tidak suka terlalu banyak berbicara atau karena dia dengan segera tertidur setelah masuk ke dalam taksi. Saya tidak dapat memusatkan pikiran saya sepanjang perjalanan  selama 50 menit dari Stasiun Kereta Chiayi ke Pelabuhan Budai dimana kami akan menaiki kapal feri menuju Penghu. Rekan yang gemuk itu dengan pengemudi taksi wanita kami mulai mengobrol tanpa henti dengan menggunakan campuran bahasa Mandarin dan Taiwan Hokkien sehingga membutuhkan usaha yang tidak sedikit bagi saya untuk dapat memahami percakapan mereka. Setelah menyerah untuk berusaha mengikuti percakapan mereka, saya mencoba untuk memusatkan perhatian saya kepada pemandangan di luar, namun sebagian besar yang terlihat adalah tanah lapang sepi yang mengelilingi kami. Tidak ada satu hal pun yang dapat membantu mengusir kekhawatiran saya. Saya khawatir tentang seberapa baik saya dapat sekaligus menjalin hubungan dengan enam kawan baru, yang empat lainnya baru akan saya temui di Pelabuhan Budai. Saya juga khawatir apakah misi kami akan tercapai dalam 2 hari ke depan atau tidak karena hal tersebutlah yang menentukan apakah uang untuk biaya perjalanan ini terbuang percuma atau tidak. Namun, kekhawatiran pertama saya tampaknya langsung lenyap segera setelah kami tiba di Pelabuhan Budai, membayar NTD 800 untuk biaya taksi, dan menemui kawan-kawan yang lain. Mereka terihat sangat ramah sehingga saya merasa optimis tidak akan kesulitan untuk bergaul dengan mereka. Di samping itu, pada dasarnya kami semua berada disini untuk satu tujuan yang sama. 

Pelabuhan Budai di Chiayi
Saat menunggu waktu keberangkatan kapal selepas membayar tiket seharga NTD 900 untuk satu kali perjalanan, saya melepaskan pandangan sekilas ke arah kawan-kawan baru saya dan berusaha memahami mengapa rekan-rekan dalam kelompok ini, termasuk saya, merasa sangat antusias dalam merencanakan perjalanan ini dengan harapan dapat menemui satu orang saja, meskipun hanya sesaat. Pria gemuk yang sebelumnya berbagi taksi dengan saya merupakan penggemar dari orang tersebut selama 17 tahun. Kenyataan bahwa dia tanpa ragu-ragu menyambut saya dalam kelompok ini karena memiliki minat yang sama, meskipun sebelumnya hanya saling mengenal di internet, menunjukkan seberapa besar dukungan yang diberikannya untuk orang tersebut. Pria yang tampak menyenangkan namun pendiam merupakan penggemar selama 16 tahun sebelum akhirnya menyadari bahwa ibunya adalah teman sekolah menengah pertama dari orang tersebut. Selembar foto usang dari buku angkatan sekolah lengkap dengan tanda tangan orang tersebut sekarang telah menjadi salah satu harta karunnya. Ada juga seorang ibu bersama putrinya yang sama-sama bergabung dalam kelompok ini sehingga terkadang membuat saya berpikir seperti apa perasaan suami (atau ayah) mereka. Seorang ibu yang lain mengaku bahwa putrinya tidak pernah dapat memahami mengapa dia bergabung dalam kelompok ini, namun dari ekspresi wajahnya saya dapat melihat dengan jelas betapa gembira dan bersemangatnya ia. Bagaimanapun juga, dia adalah penggemar yang menonton film yang sama sebanyak lebih dari 15 kali untuk menunjukkan dukungannya terhadap orang tersebut sebagai produser, sutradara, sekaligus pemeran utama pria. Kawan yang terakhir adalah seorang wanita muda yang pada satu waktu pernah berkata pada saya bahwa suara dari orang tersebutlah yang telah memikatnya sampai saat ini. Sayang sekali, sesampainya disini, lamunan saya harus terputus ketika semua orang mulai beranjak menuju pintu keberangkatan. Feri menuju Penghu yang hendak kami tumpangi siap untuk berlayar!

Pemandangan Selat Taiwan dari Jendela Kapal Feri
Saya mengawali perjalanan feri dengan rasa takjub saat menyadari bahwa seorang ibu yang telah menonton film yang sama sebanyak lebih dari 15 kali itu ternyata masih memiliki cara lain yang sederhana namun mengagumkan untuk menunjukkan dukungannya sebagai penggemar. Dia membawa selembar kain putih, sebuah jarum, benang, gunting, dan beberapa bola styrofoam. Menyadari ekspresi penasaran di wajah saya, dia pun bertanya apakah saya tahu alasan dia membawa barang-barang tersebut. Ketika melihat bahwa saya tidak tahu bagaimana harus menjawab, dia pun mulai menjelaskan bahwa dia akan membuat 8 buah boneka anti hujan, satu untuk masing-masing orang, dan kami akan memberikan semuanya kepada orang yang kami harap dapat kami jumpai di Penghu sebagai sebuah bentuk dukungan. Dengan membawa boneka-boneka anti hujan ini, kami berharap agar cuaca Penghu yang hampir selalu hujan sepanjang minggu itu, akan berganti menjadi cerah sehingga tidak lagi menghambat kemajuan proses syuting. Sayangnya, setelah mendengarkan penjelasan tersebut, saya tidak punya pilihan lain selain berusaha untuk memejamkan mata sepanjang sisa perjalanan selama 1.5 jam karena saya merasakan mabuk laut yang hebat! 

Kapal Feri Kami Mendekati Pelabuhan Magong
Pelabuhan Magong
Pengemudi yang juga merupakan pemandu wisata kami adalah seorang pria tinggi kurus dengan wajah ceria dan ekspresi yang spontan. Saya teringat masa-masa sebelum saya pindah ke Taiwan, ketika saya masih berusaha untuk mencari tahu karakter dari orang-orang Taiwan dan bagaimana saya harus bersosialisasi dengan mereka tanpa menimbulkan masalah perbedaan budaya. Saya menemukan sebagian besar orang mengatakan bahwa masyarakat Taiwan jarang menggunakan cara-cara langsung untuk menyampaikan maksud mereka. Ketika akhirnya saya menginjakkan kaki di Taiwan, kesan pertama saya terhadap masyarakat Taiwan adalah bahwa mereka sangat ramah dan luar biasa sopan. Oleh karena itu, saya pun percaya bahwa dengan alasan tidak ingin menyinggung perasaan orang lain, mereka akan lebih memilih menggunakan cara-cara tidak langsung untuk mengungkapkan maksud mereka. Melirik kembali ke arah pemandu wisata kami, saya pun mengingatkan diri sendiri untuk tidak lagi percaya begitu saja dengan teori mengenai karakter suatu masyarakat tertentu sebelum memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Pemandu wisata tersebut adalah orang yang sangat spontan dan dalam waktu singkat tidak segan-segan melemparkan guyonan yang terbilang sensitif begitu kami berada di dalam mobilnya. Memang bagaimanapun juga akan selalu ada berbagai karakter orang di manapun kita berada.

Setelah menikmati makan siang sederhana pertama di Penghu, kami dengan segera menuju ke tujuan paling pertama dan utama, yaitu lokasi syuting yang pada hari itu berada di sebuah tempat bernama dermaga Chikan di kota Baisha. Di dermaga Chikan, kami bertemu dengan kawan-kawan dari kelompok Hongkong yang telah tiba di lokasi sehari sebelum kami. Waktu menunjukkan pukul 2 siang dan mereka mengatakan bahwa kami mungkin harus menunggu hingga sekitar pukul 3 saat para kru film beristirahat supaya dapat menemui pria yang kami cari. Ketika seorang kawan dengan bersemangat menunjukkan boneka anti hujan kami kepada mereka, saya melihat ke sekeliling dan merasa puas karena beberapa boneka anti hujan ini terbukti memiliki kekuatan untuk menghalau hujan yang telah menghantui Penghu sepanjang minggu.

Satu Hari yang Cerah di Dermaga Chikan
Pantai di Dermaga Chikan
Pemandangan Selat Taiwan dari Dermaga Chikan
Sekitar pukul 3 sore, akhirnya kami melihat pria itu keluar dari rumah pantai sederhana yang khusus dibangun untuk lokasi syuting dan berjalan ke arah kami. Kulitnya terlihat lebih hitam dibandingkan dengan saat terakhir kali saya bertemu dengannya, namun senyum yang ramah itu sama sekali tidak berubah. Mengenakan busana kasual berupa celana pendek coklat dan kaos putih, wajahnya sedikit tersembunyi di balik bayangan yang dibentuk oleh topi koboi coklat yang dipakainya. Sembari sibuk menerima hadiah boneka anti hujan dari kami satu persatu, dia mengatakan betapa dia sangat menghargai kedatangan dan dukungan kami, namun tidak ingin kami berada disana sepanjang hari di bawah terik matahari hanya untuk menunggunya. Melanjutkan dengan suara yang tulus, dengan lembut dia meminta kami supaya memanfaatkan waktu kami disini untuk berwisata sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan kami dan dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya. Melihat dan mendengarkan suaranya secara langsung, berapa kalipun hal ini pernah terjadi sebelumnya, membuat saya terpukau dan berdiri diam disana tanpa melakukan apapun. Tampaknya sementara saya membeku disana, seluruh kawan saya telah memberikan boneka anti hujan mereka kepadanya. Melihat boneka anti hujan yang masih tergenggam di tangan saya, pria ramah itu tersenyum dan mengambil inisiatif untuk berkata, “Itu untuk saya bukan?” Pertanyaan pendek ini, diajukan oleh seorang pria yang telah menciptakan rekor penjualan album musik tak terpecahkan di Asia dengan menjual sebanyak 26 juta kopi hanya dari satu album, adalah satu hal yang membuat seluruh perjalanan ini berharga dan tak terlupakan!
            
Tidak ingin menambah beban untuk proses syuting, kami pun tidak mempunyai pilihan lain selain meninggalkan pesona cantik dari dermaga Chikan. Saat jam tangan menunjukkan sekitar pukul 4.30 sore, kami memutuskan untuk mengunjungi Penghu Trans-Ocean Bridge, sebuah jembatan yang menghubungkan pulau Baisha dengan pulau Xiyu, sebelum menuju ke Hotel Pescadores, satu-satunya hotel bintang lima di Penghu dimana aktor kami menginap, untuk melakukan check-in dan beristirahat. Malam harinya, kami menikmati hidangan makanan laut segar dan singgah di Xiying Rainbow Bridge untuk menutup satu hari yang sempurna di Penghu! 

Penghu Trans-Ocean Bridge
Pemandangan di Penghu Trans-Ocean Bridge
Hotel Pescadores
Yindi’an, Restoran Makanan Laut Segar dengan Harga Terjangkau
Xiying Rainbow Bridge

Tidak ada komentar:

Posting Komentar